Skip to content

MindLabs Studio

UI dan UX Design: Apa Bedanya dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Perbedaan UI dan UX
ON THIS PAGE

Pernah mengunjungi website yang terlihat menarik, memiliki kombinasi warna yang bagus, dan menggunakan animasi modern, tetapi justru membuat Anda kesulitan menemukan informasi yang dibutuhkan?

Mungkin tombolnya sulit ditemukan, menu navigasinya membingungkan, atau proses mengisi formulir terasa terlalu panjang. Pada akhirnya, Anda memilih meninggalkan website tersebut meskipun tampilan visualnya terlihat profesional.

Situasi ini menunjukkan bahwa desain yang menarik belum tentu menghasilkan pengalaman pengguna yang baik.

Dalam pengembangan website dan produk digital, ada dua konsep yang sering digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut, yaitu User Interface (UI) dan User Experience (UX).

Meskipun sering disebut bersamaan, perbedaan UI dan UX terletak pada fokus, cakupan, dan cara keduanya membantu pengguna berinteraksi dengan produk digital.

UI berhubungan dengan tampilan serta elemen interaksi yang digunakan pengguna. Sementara itu, UX memiliki cakupan lebih luas, termasuk kebutuhan, persepsi, kemudahan, dan keseluruhan pengalaman seseorang saat menggunakan produk atau layanan.

Bagi bisnis, memahami kedua konsep ini penting karena website tidak hanya berfungsi sebagai media informasi. Website juga dapat membantu calon pelanggan mengenali brand, mengevaluasi layanan, hingga mengambil keputusan pembelian.

Lantas, apa sebenarnya perbedaan UI dan UX? Bagaimana keduanya bekerja, dan mengapa desain website yang baik perlu memperhatikan lebih dari sekadar tampilan?

Apa Itu UI (User Interface)?

User Interface atau UI adalah antarmuka yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan suatu produk digital, seperti website, aplikasi mobile, atau software.

Dalam konteks website, UI mencakup berbagai elemen yang dilihat dan digunakan pengunjung untuk melakukan tindakan tertentu.

Contohnya meliputi tombol, menu navigasi, formulir, tipografi, warna, ikon, gambar, serta tata letak halaman.

Namun, UI bukan sekadar urusan membuat tampilan terlihat menarik.

UI yang dirancang dengan baik juga perlu membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen, membedakan informasi yang penting, serta mengetahui tindakan yang dapat dilakukan.

Sebagai contoh, sebuah website e-commerce menggunakan tombol “Tambahkan ke Keranjang” pada halaman produk.

Dari perspektif UI, desainer perlu mempertimbangkan ukuran tombol, warna, posisi, keterbacaan teks, hingga perubahan tampilan ketika tombol ditekan.

Jika tombol terlalu kecil atau warnanya sulit dibedakan dari elemen lain, pengguna mungkin kesulitan menemukannya.

Sebaliknya, tombol yang terlihat jelas dan konsisten dengan elemen website lainnya dapat membantu pengguna memahami tindakan yang tersedia.

Elemen Penting dalam UI Design

Dalam praktiknya, UI design melibatkan beberapa komponen yang saling berkaitan.

  • Typography: Pemilihan jenis huruf, ukuran, ketebalan, dan jarak teks agar informasi mudah dibaca.
  • Color System: Penggunaan warna untuk memperkuat identitas brand, membedakan elemen, dan menunjukkan status tertentu.
  • Layout: Pengaturan posisi konten, gambar, tombol, serta elemen lainnya pada halaman.
  • Visual Hierarchy: Penyusunan elemen berdasarkan tingkat kepentingan agar perhatian pengguna terarah.
  • Interactive Elements: Tombol, form, dropdown, tab, dan komponen lain yang digunakan untuk berinteraksi.
  • Consistency: Penggunaan gaya desain yang seragam di berbagai halaman.
  • Responsive Interface: Penyesuaian antarmuka agar dapat digunakan pada perangkat dan ukuran layar yang berbeda.

Kombinasi elemen tersebut membentuk antarmuka yang membantu pengguna berinteraksi dengan website.

Namun, bagaimana jika tombol sudah terlihat jelas, tetapi proses setelah tombol ditekan justru membingungkan?

Di sinilah peran UX menjadi semakin penting.

Apa Itu UX (User Experience)?

User Experience atau UX adalah keseluruhan pengalaman yang dirasakan pengguna ketika berinteraksi dengan produk, layanan, atau perusahaan.

Menurut Nielsen Norman Group dalam artikel What Is User Experience (and What Is It Not)?, UX mencakup hubungan antara pengguna dan produk atau layanan, termasuk persepsi, emosi, serta interaksi selama pengguna berusaha mencapai tujuannya.

Artinya, UX memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan UI.

Dalam pengembangan website, UX tidak hanya membahas bagaimana sebuah halaman terlihat, tetapi juga bagaimana pengguna menemukan informasi, memahami pilihan, menyelesaikan tugas, dan menilai pengalaman yang mereka dapatkan.

Bayangkan seseorang ingin membeli produk melalui sebuah website.

Prosesnya mungkin dimulai dari mencari produk, membaca informasi, memilih variasi, menambahkan produk ke keranjang, hingga melakukan pembayaran.

Jika salah satu tahap terlalu rumit, pengalaman pengguna dapat terganggu.

Sebagai contoh, website memiliki tampilan checkout yang menarik, tetapi pelanggan diwajibkan mengisi terlalu banyak informasi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Dari sisi UI, formulir tersebut mungkin terlihat rapi. Namun, dari sisi UX, prosesnya dapat dianggap kurang efisien karena menambah hambatan sebelum pembelian selesai.

Karena itu, UX design berusaha memahami bagaimana pengalaman tersebut dapat diperbaiki.

Apa yang Diperhatikan dalam UX Design?

UX design melibatkan proses yang lebih luas daripada pengaturan elemen visual.

Beberapa aspek yang umumnya diperhatikan meliputi:

  • User Research: Memahami karakteristik, kebutuhan, tujuan, dan hambatan pengguna.
  • Information Architecture: Menyusun informasi agar mudah ditemukan dan dipahami.
  • User Flow: Merancang langkah yang dilalui pengguna untuk menyelesaikan tindakan tertentu.
  • Wireframing: Membuat rancangan awal struktur dan fungsi halaman.
  • Prototyping: Mengembangkan simulasi interaksi sebelum produk selesai dibuat.
  • Usability Testing: Mengamati bagaimana pengguna menyelesaikan tugas untuk mengidentifikasi masalah.
  • Accessibility: Mempertimbangkan kebutuhan pengguna dengan kemampuan dan kondisi yang berbeda.

UX yang baik tidak selalu berarti memberikan pengalaman paling cepat atau paling sederhana dalam setiap situasi.

Hal yang lebih penting adalah kesesuaian pengalaman dengan kebutuhan pengguna dan tujuan yang ingin mereka capai.

Misalnya, proses pembelian produk sederhana mungkin cukup menggunakan beberapa langkah. Sebaliknya, aplikasi keuangan dapat membutuhkan tahap verifikasi tambahan demi keamanan pengguna.

Dengan demikian, kualitas UX perlu dinilai berdasarkan konteks penggunaan.

Perbedaan UI dan UX dalam Website dan Aplikasi

Setelah memahami definisinya, perbedaan UI dan UX dapat dilihat dari fokus pekerjaan, proses, serta hasil yang ingin dicapai.

UI berfokus pada bagaimana antarmuka dirancang dan digunakan, sedangkan UX berfokus pada keseluruhan pengalaman pengguna saat berinteraksi dengan produk atau layanan.

Berikut perbandingannya.

AspekUI (User Interface)UX (User Experience)
FokusAntarmuka dan elemen interaksiKeseluruhan pengalaman pengguna
Pertanyaan utamaBagaimana antarmuka ditampilkan dan digunakan?Apakah pengguna dapat mencapai tujuannya dengan baik?
CakupanLayout, warna, tipografi, tombol, komponenRiset, alur, kebutuhan, persepsi, dan usability
Aktivitas desainVisual design, komponen, interactive statesUser research, user flow, wireframe, usability testing
Hasil kerjaUI screens, komponen, design systemUser journey, flow, prototype, temuan usability
Indikator evaluasiKeterbacaan, konsistensi, kejelasan elemenTask success, kesalahan, efisiensi, kepuasan
Contoh masalahTombol sulit terlihatProses pemesanan terlalu membingungkan

Namun, pembagian tersebut bukan berarti UI dan UX selalu dikerjakan secara terpisah.

Keduanya saling memengaruhi.

Ketika desainer UX menemukan bahwa pengguna kesulitan memahami pilihan pada sebuah formulir, perbaikannya mungkin membutuhkan perubahan desain UI.

Sebaliknya, penggunaan warna, label, dan tata letak dalam UI dapat memengaruhi bagaimana pengguna menjalani keseluruhan proses.

Oleh karena itu, UI dan UX sebaiknya dipahami sebagai dua disiplin yang saling melengkapi, bukan dua pilihan desain yang harus dipertentangkan.

Contoh Perbedaan UI dan UX dalam Situasi Nyata

Untuk memahami pengaruh keduanya terhadap bisnis, mari melihat beberapa contoh penerapannya pada produk digital.

1. E-Commerce

Sebuah online store menjual berbagai produk fashion.

Dari sisi UI, website menggunakan foto produk yang menarik, tipografi yang mudah dibaca, kategori produk yang jelas, dan tombol pembelian yang mudah dikenali.

Namun, pengalaman tersebut masih perlu didukung UX yang baik.

Bayangkan pelanggan telah memilih produk, tetapi harus melalui enam halaman checkout, membuat akun baru, dan mengisi informasi yang berulang.

Meskipun setiap halaman terlihat profesional, proses yang panjang dapat membuat pelanggan kesulitan menyelesaikan pembelian.

Dalam kondisi ini, perbaikan UX mungkin mencakup penyederhanaan checkout, pengurangan input yang tidak diperlukan, atau pemberian pilihan guest checkout.

Sementara itu, perbaikan UI dapat dilakukan dengan memperjelas indikator progres, label formulir, dan informasi biaya.

2. Company Profile

Sebuah perusahaan konsultan memiliki website dengan animasi modern, fotografi profesional, dan tampilan minimalis.

Dari sisi UI, website tersebut mungkin sudah berhasil menyampaikan kesan profesional.

Namun, calon pelanggan mengalami kesulitan ketika ingin mengetahui cakupan layanan atau menemukan cara menghubungi perusahaan.

Halaman layanan terlalu umum, informasi tersebar di beberapa bagian, dan tombol konsultasi hanya muncul pada footer.

Masalah ini berhubungan dengan UX karena menyangkut kemudahan pengguna memperoleh informasi dan menyelesaikan tujuan kunjungannya.

Perbaikannya dapat dimulai dengan menyusun struktur layanan yang lebih jelas, memperbaiki navigasi, dan menempatkan CTA pada konteks yang sesuai.

Kemudian, UI membantu menerjemahkan struktur tersebut melalui desain tombol, heading, dan tata letak yang mudah dipahami.

3. Aplikasi Software as a Service (SaaS)

Bayangkan perusahaan menggunakan software project management untuk memantau pekerjaan tim.

Dashboard aplikasi terlihat rapi dan memiliki banyak fitur.

Namun, pengguna baru kesulitan memahami cara membuat proyek, mengundang anggota tim, atau mengatur tenggat waktu pekerjaan.

Dari sisi UI, masalah mungkin muncul karena penggunaan ikon yang kurang familiar atau tombol yang sulit dikenali.

Dari sisi UX, masalahnya bisa lebih mendasar, seperti tidak adanya alur onboarding yang sesuai atau struktur fitur yang tidak mengikuti kebutuhan pengguna.

Solusi yang tepat membutuhkan pemahaman terhadap masalah sebenarnya.

Menambahkan warna atau animasi baru belum tentu membantu apabila hambatan utama berasal dari urutan proses yang membingungkan.

Mengapa UI dan UX Penting untuk Pertumbuhan Bisnis?

Ketika membahas desain website, perusahaan sering memprioritaskan tampilan visual karena hasilnya mudah dilihat.

Namun, bagi bisnis yang menggunakan website untuk mendapatkan pelanggan, pengalaman pengguna juga perlu diperhatikan.

Sebab, sebuah website umumnya memiliki tujuan tertentu.

Website e-commerce dirancang untuk memfasilitasi pembelian. Website perusahaan dapat membantu calon klien mengevaluasi layanan. Sementara itu, landing page dibuat untuk mendorong tindakan seperti pendaftaran atau pengisian formulir.

UI dan UX dapat mendukung tujuan tersebut melalui beberapa cara.

Membantu Pengunjung Memahami Informasi

Pengunjung biasanya datang dengan kebutuhan tertentu.

Mereka mungkin ingin membandingkan produk, mengetahui harga layanan, atau mempelajari kredibilitas perusahaan.

Struktur informasi yang jelas membantu mereka menemukan jawaban tanpa harus mencari terlalu lama.

UI berperan dalam menyajikan informasi tersebut, sedangkan UX membantu menentukan bagaimana informasi diorganisasi dan diakses.

Mendukung Proses Konversi

Conversion rate menunjukkan persentase pengguna yang menyelesaikan tindakan tertentu.

Tindakan tersebut dapat berupa pembelian, pengisian formulir, pendaftaran akun, atau permintaan konsultasi.

Dalam konteks ini, UI dan UX dapat membantu mengurangi hambatan yang tidak diperlukan.

Misalnya, formulir konsultasi yang meminta terlalu banyak informasi mungkin membuat sebagian calon pelanggan menunda pengisian.

Sementara itu, tombol CTA yang kurang terlihat dapat membuat pengunjung tidak menyadari bahwa tersedia langkah lanjutan.

Namun, desain bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi konversi. Harga, kebutuhan pelanggan, kualitas penawaran, dan sumber trafik juga berperan.

Memperkuat Persepsi terhadap Brand

Pengalaman menggunakan website dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menilai profesionalisme sebuah bisnis.

Website dengan desain konsisten, informasi yang jelas, dan interaksi yang mudah dipahami berpotensi membantu calon pelanggan merasa lebih nyaman ketika mengevaluasi penawaran.

Sebaliknya, informasi yang sulit ditemukan atau fungsi website yang bermasalah dapat menimbulkan keraguan.

Karena itu, identitas visual dan pengalaman pengguna perlu dikembangkan secara selaras.

Membantu Efisiensi Aktivitas Pemasaran

Bisnis dapat menghabiskan anggaran untuk SEO, Google Ads, dan Meta Ads guna mendatangkan pengunjung.

Namun, apabila website sulit digunakan, sebagian trafik tersebut mungkin tidak menghasilkan tindakan yang diharapkan.

Dengan demikian, memperbaiki UI dan UX dapat menjadi bagian dari evaluasi efektivitas pemasaran.

Sebelum meningkatkan budget iklan, bisnis perlu memahami apakah masalah utamanya terletak pada kualitas trafik, penawaran, atau pengalaman setelah pengguna memasuki website.

Apa Kata Riset tentang UI dan UX?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengalaman digital masih menjadi tantangan bagi banyak website.

Temuan berikut memberikan gambaran mengenai masalah yang sering muncul dan area yang layak mendapat perhatian.

1. Baymard Institute: 70,22% Keranjang Belanja Ditinggalkan

Menurut Baymard Institute dalam Cart Abandonment Rate Statistics, rata-rata tingkat pengabaian keranjang belanja online mencapai 70,22%, berdasarkan kompilasi 50 penelitian.

Angka tersebut menunjukkan bahwa banyak proses belanja tidak berakhir dengan transaksi.

Namun, tidak seluruh pengabaian keranjang disebabkan oleh UI atau UX yang buruk.

Sebagian pengguna memang hanya ingin melihat produk atau membandingkan harga sebelum membeli.

Meski demikian, Baymard juga menemukan berbagai hambatan yang berkaitan dengan pengalaman checkout, termasuk biaya tambahan, proses yang rumit, dan kewajiban membuat akun.

Dalam penelitian Checkout UX 2025, Baymard melaporkan bahwa 64% website desktop dan 63% website mobile yang dievaluasi memiliki kualitas checkout UX pada kategori mediocre atau lebih buruk.

Temuan tersebut menunjukkan masih banyak peluang perbaikan pada pengalaman pembelian.

Bagi bisnis e-commerce, langkah pertama bukan selalu mengganti seluruh desain website, tetapi mengidentifikasi bagian checkout yang paling sering menimbulkan hambatan.

2. WebAIM 2026: Masalah Aksesibilitas Masih Banyak Ditemukan

Desain digital yang baik perlu mempertimbangkan pengguna dengan kebutuhan dan kemampuan yang berbeda.

Dalam The WebAIM Million 2026, WebAIM mengevaluasi satu juta homepage menggunakan pemeriksaan aksesibilitas otomatis.

Hasilnya, 95,9% homepage yang diuji memiliki setidaknya satu kegagalan WCAG yang dapat terdeteksi secara otomatis.

Penelitian tersebut juga menemukan rata-rata 56,1 kesalahan aksesibilitas terdeteksi pada setiap homepage.

Beberapa masalah yang banyak ditemukan antara lain:

  • 83,9% homepage memiliki masalah kontras teks yang rendah.
  • 53,1% memiliki gambar dengan alternative text yang tidak tersedia.
  • 51% memiliki masalah label pada input formulir.

Temuan ini tidak berarti semua website tersebut sepenuhnya tidak dapat diakses. Pemeriksaan otomatis hanya mendeteksi sebagian jenis masalah aksesibilitas.

Meski demikian, hasilnya memberikan gambaran mengenai pentingnya keterbacaan teks, struktur formulir, dan komponen interaksi.

Bagi bisnis, aksesibilitas sebaiknya dipertimbangkan sejak proses desain, bukan hanya diperiksa setelah website selesai.

3. Nielsen Norman Group: UX Memiliki Cakupan Lebih Luas dari UI

Dalam publikasi State of UX in 2026, Nielsen Norman Group membahas bagaimana perkembangan teknologi dan AI mengubah praktik desain produk digital.

Salah satu pembahasannya menekankan bahwa nilai UX tidak hanya berasal dari tampilan antarmuka, tetapi juga dari cara sistem bekerja dan bagaimana pengguna menyelesaikan kebutuhan mereka.

Seiring berkembangnya design systems dan berbagai alat pembuat antarmuka, menghasilkan tampilan yang terlihat baik dapat menjadi semakin mudah.

Namun, memahami kebutuhan pengguna, menyusun alur produk, dan menyelesaikan masalah penggunaan tetap membutuhkan perhatian.

Hal ini memberikan pelajaran bagi bisnis yang sedang mengembangkan website: desain visual perlu mendukung sistem dan pengalaman yang memiliki tujuan jelas.

Bagaimana UI dan UX Mempengaruhi Conversion Rate?

Hubungan UI, UX, dan conversion rate perlu dilihat melalui perilaku pengunjung website.

Misalnya, sebuah landing page mendapatkan 2.000 kunjungan dalam satu bulan dan menghasilkan 40 formulir konsultasi.

Conversion rate awalnya adalah:

Conversion Rate = (40 ÷ 2.000) × 100% = 2%

Setelah melakukan evaluasi, perusahaan menemukan bahwa formulir terlalu panjang dan informasi layanan kurang jelas.

Tim kemudian menyederhanakan pertanyaan formulir, memperjelas manfaat layanan, dan menyesuaikan posisi CTA.

Apabila pada periode evaluasi berikutnya website mendapatkan 2.000 kunjungan dan 60 formulir konsultasi, conversion rate menjadi:

Conversion Rate = (60 ÷ 2.000) × 100% = 3%

Secara matematis, perubahan tersebut menunjukkan kenaikan conversion rate sebesar 1 poin persentase atau peningkatan relatif 50%.

Namun, angka ini hanya ilustrasi dan bukan hasil studi kasus nyata.

Peningkatan tersebut juga belum tentu sepenuhnya disebabkan perubahan UI atau UX.

Perbedaan sumber trafik, penawaran, periode kampanye, dan karakteristik pengunjung dapat mempengaruhi hasil.

Karena itu, bisnis sebaiknya menggunakan A/B testing atau metode evaluasi lain yang sesuai ketika ingin mengetahui dampak perubahan desain terhadap konversi.

Selain conversion rate, kualitas leads dan hasil penjualan juga perlu diperhatikan agar optimasi tidak hanya mengejar jumlah formulir.

Apa Hubungan UI, UX, dan SEO?

UI, UX, dan SEO sering dibahas bersamaan ketika perusahaan mengembangkan website.

Namun, ketiganya tidak memiliki fungsi yang sama.

SEO membantu mesin pencari menemukan dan memahami konten yang relevan. UI membantu menyajikan antarmuka yang jelas, sedangkan UX memperhatikan keseluruhan pengalaman pengguna.

Hubungan ketiganya dapat terlihat pada performa dan struktur halaman.

Menurut Google Search Central, Core Web Vitals digunakan untuk mengukur beberapa aspek pengalaman pengguna nyata, yaitu kecepatan pemuatan, responsivitas interaksi, dan stabilitas visual.

Google merekomendasikan:

MetrikTarget Kategori Baik
Largest Contentful Paint (LCP)Maksimal 2,5 detik
Interaction to Next Paint (INP)Maksimal 200 milidetik
Cumulative Layout Shift (CLS)Maksimal 0,1

Metrik tersebut membantu mengevaluasi performa teknis halaman yang berhubungan dengan pengalaman pengguna.

Misalnya, apabila sebuah tombol berpindah posisi ketika pengunjung hendak menekannya, pengalaman penggunaan dapat terganggu. Masalah seperti ini berhubungan dengan stabilitas visual yang diukur melalui CLS.

Namun, perlu dipahami bahwa skor Core Web Vitals bukan ukuran lengkap kualitas UX.

Website yang cepat belum tentu memiliki navigasi yang baik, informasi relevan, atau proses pembelian yang mudah.

Demikian pula, desain UI yang menarik tidak otomatis meningkatkan ranking Google.

Untuk membangun website yang efektif, bisnis perlu memperhatikan kualitas konten, struktur informasi, performa teknis, dan kebutuhan pengunjung secara bersamaan.

Bagaimana Proses UI/UX Design Dilakukan?

Pengembangan UI dan UX sebaiknya tidak dimulai hanya dengan memilih referensi warna atau tampilan website kompetitor.

Langkah awal yang lebih berguna adalah memahami tujuan bisnis serta kebutuhan orang yang akan menggunakan produk digital.

Secara umum, prosesnya dapat melalui beberapa tahapan berikut.

1. Memahami Tujuan Bisnis dan Pengguna

Pertama, tim perlu mengetahui apa yang ingin dicapai melalui website.

Apakah tujuannya meningkatkan permintaan konsultasi, mempermudah pembelian, atau membantu pelanggan menemukan informasi layanan?

Selanjutnya, pelajari karakteristik target pengguna.

Informasi dapat diperoleh melalui wawancara, analisis perilaku website, data pelanggan, atau evaluasi pertanyaan yang sering disampaikan calon pembeli.

Dengan demikian, keputusan desain memiliki dasar yang lebih kuat daripada sekadar preferensi visual.

2. Menyusun Information Architecture dan User Flow

Setelah kebutuhan dipahami, tim dapat menentukan struktur informasi.

Misalnya, sebuah website company profile memiliki halaman utama, about us, services, portfolio, insights, dan contact.

Struktur tersebut perlu disusun sesuai prioritas informasi yang dibutuhkan pengunjung.

Selanjutnya, user flow menggambarkan langkah yang dilalui pengguna untuk mencapai tujuan tertentu.

Jika pengguna ingin meminta quotation, alur yang dirancang sebaiknya membantu mereka menemukan layanan, memahami penawaran, dan mengirimkan inquiry tanpa kesulitan yang tidak diperlukan.

3. Membuat Wireframe dan Prototype

Wireframe membantu menggambarkan struktur halaman sebelum masuk ke detail visual.

Pada tahap ini, tim menentukan penempatan heading, konten, gambar, formulir, serta CTA.

Setelah struktur disepakati, prototype dapat digunakan untuk mensimulasikan interaksi.

Pendekatan ini membantu tim mengidentifikasi masalah lebih awal sebelum seluruh website dikembangkan.

4. Mengembangkan UI Design

Tahap berikutnya adalah menerjemahkan struktur dan alur menjadi antarmuka visual.

Tim UI design mulai menentukan tipografi, warna, komponen, tata letak, serta tampilan responsif.

Untuk menjaga konsistensi, proyek dapat menggunakan design system yang berisi aturan visual dan komponen yang dapat digunakan berulang.

Namun, pilihan visual tetap harus mempertimbangkan keterbacaan, aksesibilitas, dan kejelasan fungsi.

5. Melakukan Usability Testing

Setelah prototype atau website siap diuji, tim dapat mengamati bagaimana pengguna menjalankan tugas tertentu.

Misalnya, peserta diminta menemukan informasi harga layanan dan mengisi formulir konsultasi.

Selama pengujian, tim memperhatikan apakah mereka mampu menyelesaikan tugas, bagian mana yang membingungkan, dan masalah apa yang muncul.

Menurut Nielsen Norman Group, pengujian usability kualitatif dengan sekitar lima peserta dalam satu kelompok pengguna sering menjadi titik awal yang efisien untuk menemukan masalah.

Namun, jumlah tersebut bukan aturan untuk semua jenis penelitian. Pengujian kuantitatif yang bertujuan menghasilkan estimasi statistik membutuhkan jumlah peserta yang lebih besar.

Temuan dari pengujian dapat digunakan untuk memperbaiki desain sebelum atau setelah website diluncurkan.

Cara Mengukur Keberhasilan UI dan UX

Tidak semua masalah desain dapat dinilai hanya dengan melihat tampilan website.

Karena itu, evaluasi UI dan UX sebaiknya menggunakan kombinasi observasi pengguna, feedback, dan data perilaku.

Beberapa metrik yang relevan meliputi:

MetrikApa yang Diukur
Task Success RatePersentase pengguna yang berhasil menyelesaikan tugas
Time on TaskWaktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas
Error RateFrekuensi kesalahan ketika pengguna berinteraksi
User SatisfactionPenilaian subjektif terhadap pengalaman penggunaan
Conversion RatePersentase pengunjung yang menyelesaikan tindakan bisnis
Form Completion RatePersentase pengguna yang menyelesaikan formulir
Checkout Abandonment RatePersentase proses keranjang belanja yang tidak berakhir dengan pembelian

Metrik tersebut memiliki fungsi berbeda.

Sebagai contoh, conversion rate dapat menunjukkan hasil tindakan tertentu, tetapi tidak langsung menjelaskan alasan seseorang gagal menyelesaikan proses.

Sebaliknya, usability testing membantu memahami hambatan yang dihadapi pengguna, meskipun hasil pengujian dengan sampel kecil tidak dapat digunakan untuk mengklaim dampak statistik pada seluruh pengunjung.

Karena itu, kombinasi data kuantitatif dan pengamatan kualitatif umumnya memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Kesalahan UI dan UX yang Sering Terjadi pada Website Bisnis

Meskipun banyak perusahaan sudah memperhatikan desain website, beberapa masalah masih sering ditemukan.

Terlalu fokus pada visual. Website memiliki animasi dan elemen menarik, tetapi informasi utama sulit ditemukan.

Navigasi terlalu kompleks. Terlalu banyak pilihan menu dapat menyulitkan pengguna memahami struktur website.

CTA kurang jelas. Pengunjung sudah membaca penjelasan produk, tetapi tidak mengetahui bagaimana mengambil langkah berikutnya.

Formulir terlalu panjang. Calon pelanggan diminta mengisi informasi yang belum diperlukan pada tahap awal.

Tidak memperhatikan pengguna mobile. Tampilan desktop terlihat baik, tetapi komponen menjadi sulit digunakan pada layar yang lebih kecil.

Mengabaikan aksesibilitas. Kontras teks terlalu rendah, formulir tidak memiliki label yang jelas, atau tombol sulit digunakan dengan keyboard.

Tidak melakukan pengujian. Keputusan desain dibuat berdasarkan asumsi internal tanpa memeriksa bagaimana pengguna sesungguhnya berinteraksi.

Kesalahan tersebut tidak selalu mengharuskan perusahaan melakukan redesign secara menyeluruh.

Dalam beberapa kondisi, perubahan pada navigasi, konten, atau alur formulir sudah dapat mengurangi hambatan tertentu.

Namun, efektivitas setiap perubahan tetap perlu diuji berdasarkan data.

Apakah Bisnis Perlu Memprioritaskan UI atau UX?

Pertanyaan ini biasanya muncul ketika perusahaan memiliki anggaran dan waktu pengembangan yang terbatas.

Jawabannya bergantung pada masalah yang sedang dihadapi.

Jika website memiliki struktur informasi yang jelas tetapi tampilan visualnya tidak konsisten, perbaikan UI dapat menjadi prioritas.

Sebaliknya, jika website terlihat profesional tetapi pengunjung sering mengalami kesulitan dalam navigasi atau menyelesaikan formulir, evaluasi UX mungkin perlu dilakukan lebih dahulu.

Namun, untuk pengembangan website baru, keduanya sebaiknya direncanakan bersama.

UX membantu menentukan kebutuhan dan alur penggunaan. Kemudian, UI membantu mewujudkan alur tersebut melalui antarmuka yang mudah dipahami.

Pendekatan ini juga relevan ketika perusahaan ingin melakukan redesign.

Alih-alih langsung mengganti seluruh tampilan, evaluasi terlebih dahulu masalah yang ingin diselesaikan.

Apakah conversion rate rendah karena pengunjung tidak menemukan CTA? Apakah informasi layanan kurang jelas? Atau apakah target audiens yang datang memang tidak sesuai?

Dengan memahami masalah tersebut, perusahaan dapat menentukan prioritas pengembangan yang lebih tepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang UI dan UX

Apa Perbedaan Utama UI dan UX?

UI berfokus pada antarmuka dan elemen interaksi yang digunakan pengguna, sedangkan UX mencakup keseluruhan pengalaman pengguna ketika berinteraksi dengan produk atau layanan.

UI merupakan bagian penting dari UX, tetapi UX tidak terbatas pada tampilan layar.

Apakah UI dan UX Harus Dikerjakan oleh Orang Berbeda?

Tidak selalu.

Dalam tim kecil, satu desainer dapat menangani kegiatan UI dan UX. Namun, pada proyek yang lebih kompleks, tanggung jawabnya dapat dibagi antara UX researcher, UX designer, UI designer, dan peran lainnya.

Pembagian tersebut bergantung pada kebutuhan proyek dan struktur tim.

UI/UX Design Sama dengan Graphic Design?

Tidak sepenuhnya.

Graphic design lebih berfokus pada komunikasi visual, sedangkan UI design berkaitan dengan antarmuka yang dapat digunakan dan diinteraksikan.

UX design memiliki cakupan lebih luas karena melibatkan riset pengguna, struktur informasi, alur, dan pengalaman penggunaan.

Apakah Website dengan UI Bagus Pasti Memiliki UX yang Baik?

Tidak.

Website dapat memiliki tampilan yang menarik tetapi tetap sulit digunakan apabila alur navigasi, informasi, atau fungsi utamanya tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.

UI dan UX Dapat Meningkatkan Conversion Rate?

Perbaikan UI dan UX dapat membantu mengurangi hambatan yang dialami pengguna ketika melakukan tindakan tertentu.

Namun, hasilnya tidak selalu berupa peningkatan konversi karena performa bisnis juga dipengaruhi penawaran, kualitas trafik, harga, dan berbagai faktor lainnya.

Apakah UI dan UX Penting untuk SEO?

Keduanya dapat mendukung pengalaman pengunjung setelah menemukan website melalui mesin pencari.

Namun, desain UI dan UX bukan pengganti optimasi SEO. Konten yang relevan, aksesibilitas mesin pencari, struktur website, dan kualitas teknis tetap perlu diperhatikan.

Kesimpulan

Memahami perbedaan UI dan UX membantu bisnis melihat bahwa desain website memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada menghasilkan tampilan visual yang menarik.

UI berperan dalam membentuk antarmuka yang jelas, konsisten, dan mudah digunakan. Sementara itu, UX memperhatikan bagaimana pengguna menjalani keseluruhan pengalaman saat berinteraksi dengan produk atau layanan.

Keduanya saling berkaitan.

Website dengan UI yang menarik tetap dapat menimbulkan masalah apabila pengguna kesulitan menemukan informasi. Sebaliknya, alur yang dirancang dengan baik juga membutuhkan antarmuka yang jelas agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bagi perusahaan, mengembangkan UI dan UX berarti memahami siapa yang menggunakan website, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana desain dapat membantu mereka mencapai tujuan.

Pendekatan tersebut juga dapat mendukung aktivitas digital marketing, terutama ketika website digunakan untuk memperkenalkan layanan, mendapatkan leads, atau memfasilitasi transaksi.

Pada akhirnya, desain website yang baik bukan hanya tentang apa yang dilihat pengunjung, tetapi juga tentang seberapa mudah mereka memahami informasi dan menyelesaikan kebutuhan mereka.

Jika perusahaan Anda sedang merencanakan website baru atau mempertimbangkan redesign, Mindlabs Studio menyediakan layanan Website Development yang mencakup website strategy, UX design, UI design, responsive design, dan pengembangan website.

Melalui pendekatan yang mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis, pengembangan website dapat direncanakan secara lebih terarah sejak tahap awal.

MORE TO EXPLORE

RELATED INSIGHTS.

VIEW ALL ARTICLES