Sebuah bisnis menghabiskan anggaran Rp5 juta untuk menjalankan iklan digital dan berhasil menghasilkan penjualan Rp20 juta. Sekilas, kampanye tersebut terlihat berhasil karena pendapatan yang dihasilkan empat kali lebih besar daripada biaya iklan.
Namun, apakah bisnis tersebut benar-benar mendapatkan keuntungan?
Jawabannya belum tentu.
Ada biaya produk, pengiriman, operasional, hingga potongan harga yang perlu diperhitungkan sebelum menentukan apakah sebuah kampanye memberikan hasil yang menguntungkan.
Inilah alasan mengapa memahami cara menghitung ROAS menjadi penting bagi pemilik bisnis, digital marketer, maupun tim yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan perusahaan.
ROAS atau Return on Ad Spend merupakan salah satu metrik yang digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara pendapatan yang diatribusikan kepada iklan dan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankannya.
Meskipun rumusnya sederhana, membaca ROAS membutuhkan pemahaman yang lebih luas tentang margin keuntungan, kualitas data penjualan, serta tujuan pemasaran.
Artikel ini membahas cara menghitung ROAS menggunakan contoh nyata secara matematis, menentukan target yang masuk akal, dan menghindari kesalahan yang sering terjadi ketika mengevaluasi performa iklan digital.
Apa Itu ROAS dalam Digital Marketing?
ROAS adalah singkatan dari Return on Ad Spend, yaitu metrik yang mengukur besarnya pendapatan yang diatribusikan kepada aktivitas periklanan dibandingkan dengan biaya iklan yang dikeluarkan.
Dalam digital marketing, ROAS digunakan untuk mengevaluasi efisiensi kampanye berbayar, seperti Google Ads, Meta Ads, atau kanal periklanan digital lainnya.
Menurut Shopify dalam artikel Return on Ad Spend: How To Calculate Your ROAS, yang diperbarui pada 13 Juli 2026, ROAS membantu bisnis memahami berapa banyak pendapatan yang diperoleh untuk setiap satuan biaya yang digunakan dalam kampanye periklanan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan menjalankan kampanye dengan biaya Rp2 juta dan mencatat pendapatan yang diatribusikan kepada iklan sebesar Rp8 juta.
Maka, nilai ROAS kampanye tersebut adalah 4 atau sering disebut 4x.
Artinya, setiap Rp1 yang dikeluarkan untuk iklan berkaitan dengan Rp4 pendapatan yang diatribusikan kepada kampanye tersebut.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami sejak awal.
ROAS mengukur perbandingan pendapatan dan biaya iklan, bukan keuntungan bersih perusahaan.
Perbedaan ini sering menimbulkan kesalahpahaman ketika bisnis mengevaluasi hasil kampanye.
Sebuah iklan dapat memiliki ROAS tinggi, tetapi tetap menghasilkan kerugian apabila biaya produk dan biaya operasional terlalu besar.
Sebaliknya, ROAS yang terlihat lebih rendah mungkin masih dapat diterima oleh bisnis dengan struktur margin yang lebih tinggi.
Karena itu, ROAS perlu dipahami sebagai salah satu indikator performa pemasaran, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis.
Cara Menghitung ROAS: Rumus dan Langkah Praktis
Secara matematis, rumus ROAS cukup sederhana. Anda hanya perlu membandingkan pendapatan yang berasal dari iklan dengan total biaya iklan yang digunakan.
Rumus dasarnya adalah:
ROAS = Pendapatan dari Iklan ÷ Biaya Iklan
Jika ingin menampilkan hasil dalam bentuk persentase, rumusnya menjadi:
ROAS (%) = (Pendapatan dari Iklan ÷ Biaya Iklan) × 100%
Kedua rumus tersebut memiliki arti yang sama. Perbedaannya hanya pada cara menampilkan hasil.
Misalnya, ROAS 4x setara dengan 400%, sedangkan ROAS 2,5x sama dengan 250%.
Agar lebih mudah dipahami, berikut langkah menghitungnya.
1. Tentukan Total Biaya Iklan
Langkah pertama adalah mengetahui jumlah biaya yang benar-benar digunakan selama periode kampanye.
Untuk menghitung ROAS berdasarkan metrik standar platform, biaya yang digunakan umumnya berasal dari ad spendatau pengeluaran media yang tercatat pada dashboard periklanan.
Misalnya, selama satu bulan sebuah perusahaan menghabiskan:
- Google Ads: Rp3.000.000
- Meta Ads: Rp2.000.000
Total biaya media advertising adalah Rp5.000.000.
Namun, apabila perusahaan ingin membuat analisis biaya iklan yang lebih menyeluruh, biaya produksi kreatif, jasa pengelolaan, atau biaya tambahan lainnya juga dapat diperhitungkan.
Perhitungan dengan cakupan biaya lebih luas ini perlu diberi label berbeda agar tidak tertukar dengan ROAS standar yang ditampilkan platform.
2. Hitung Pendapatan yang Diatribusikan kepada Iklan
Selanjutnya, identifikasi pendapatan yang berhubungan dengan kampanye tersebut berdasarkan sistem pengukuran yang digunakan.
Untuk bisnis e-commerce, data dapat diperoleh dari transaksi website yang tercatat melalui conversion tracking, Google Analytics, atau sistem penjualan internal.
Misalnya, sebuah kampanye menghasilkan 80 transaksi dengan rata-rata nilai pesanan sebesar Rp250.000.
Perhitungannya:
80 transaksi × Rp250.000 = Rp20.000.000
Dengan demikian, total pendapatan yang tercatat adalah Rp20 juta.
Namun, gunakan nilai transaksi yang benar-benar valid. Pembatalan pesanan, refund, atau perbedaan metode atribusi dapat mempengaruhi hasil akhir.
Selain itu, pendapatan yang diatribusikan oleh platform iklan tidak selalu sama dengan pendapatan tambahan yang secara langsung disebabkan oleh iklan.
3. Masukkan Data ke dalam Rumus ROAS
Setelah biaya dan pendapatan diketahui, masukkan keduanya ke dalam rumus.
Data kampanye:
- Total Ad Spend: Rp5.000.000
- Revenue dari Iklan: Rp20.000.000
Perhitungannya:
ROAS = Rp20.000.000 ÷ Rp5.000.000
ROAS = 4x atau 400%
Artinya, untuk setiap Rp1 yang dikeluarkan sebagai biaya iklan, kampanye mencatat Rp4 pendapatan yang diatribusikan kepada iklan tersebut.
Perhitungan ini dapat digunakan sebagai dasar awal untuk mengevaluasi efisiensi kampanye.
Namun, untuk menentukan apakah kampanye benar-benar menguntungkan, bisnis masih perlu mempertimbangkan biaya lainnya.
Contoh Perhitungan ROAS pada Berbagai Jenis Bisnis
Setelah memahami rumus dasarnya, mari melihat bagaimana ROAS dapat digunakan dalam situasi bisnis yang berbeda.
Contoh berikut merupakan simulasi untuk tujuan pembelajaran, bukan data kampanye Mindlabs Studio atau benchmark industri.
1: ROAS Bisnis E-Commerce
Sebuah online store menjalankan Meta Ads untuk mempromosikan produk fashion.
Selama periode kampanye, diperoleh data berikut:
| Metrik | Hasil |
| Advertising Spend | Rp3.000.000 |
| Total Transactions | 60 |
| Average Order Value | Rp200.000 |
| Total Revenue | Rp12.000.000 |
| ROAS | 4x / 400% |
Perhitungannya:
ROAS = Rp12.000.000 ÷ Rp3.000.000 = 4x
Dari sisi pendapatan terhadap biaya iklan, kampanye menghasilkan rasio 4:1.
Meski demikian, evaluasi belum selesai. Perusahaan masih perlu menghitung biaya produk, biaya transaksi, pengiriman yang ditanggung bisnis, serta pengeluaran lainnya.
2: ROAS Bisnis Jasa
Sebuah perusahaan konsultan menjalankan Google Ads untuk mendapatkan calon pelanggan melalui formulir konsultasi.
Hasil kampanye:
- Advertising Spend: Rp4.000.000
- Total Leads: 40
- Pelanggan yang Berhasil Closing: 4
- Nilai Kontrak per Pelanggan: Rp5.000.000
Jika keempat kontrak sudah menjadi penjualan yang valid, total pendapatan yang diatribusikan kepada kampanye adalah:
4 × Rp5.000.000 = Rp20.000.000
ROAS = Rp20.000.000 ÷ Rp4.000.000
ROAS = 5x atau 500%
Namun, apabila 40 leads tersebut belum menghasilkan pelanggan, bisnis belum dapat menyatakan revenue sebesar Rp20 juta hanya berdasarkan jumlah prospek.
Dalam kondisi tersebut, Cost per Lead (CPL), qualified leads, dan lead-to-customer conversion rate dapat menjadi metrik evaluasi sementara.
Jika perusahaan menggunakan nilai konversi estimasi untuk leads, hasilnya perlu diberi keterangan sebagai value-based ROAS, bukan disamakan langsung dengan pendapatan penjualan aktual.
3: Membandingkan Performa Dua Campaign
Misalnya, sebuah bisnis memiliki dua kampanye dengan performa berbeda.
| Metrik | Campaign A | Campaign B |
| Ad Spend | Rp2.000.000 | Rp5.000.000 |
| Revenue | Rp8.000.000 | Rp15.000.000 |
| ROAS | 4x | 3x |
Jika hanya melihat ROAS, Campaign A terlihat lebih efisien.
Namun, Campaign B menghasilkan pendapatan yang lebih besar dalam nilai absolut.
Apakah Campaign A otomatis lebih baik?
Belum tentu.
Keputusan anggaran perlu mempertimbangkan margin produk, kontribusi keuntungan, jenis pelanggan yang diperoleh, dan kemampuan masing-masing kampanye untuk ditingkatkan skalanya.
Hal ini memperlihatkan bahwa ROAS merupakan alat evaluasi yang berguna, tetapi interpretasinya tetap membutuhkan konteks bisnis.
Cara Membaca Hasil ROAS: 1x, 2x, 3x, hingga 5x
Setelah mengetahui hasil perhitungan, langkah berikutnya adalah memahami arti setiap nilai ROAS.
Berikut ilustrasi sederhana dengan asumsi biaya iklan sebesar Rp1 juta.
| ROAS | Persentase | Revenue Tercatat |
| 1x | 100% | Rp1.000.000 |
| 2x | 200% | Rp2.000.000 |
| 3x | 300% | Rp3.000.000 |
| 4x | 400% | Rp4.000.000 |
| 5x | 500% | Rp5.000.000 |
Semakin tinggi ROAS, semakin besar pendapatan yang dicatat relatif terhadap biaya iklan.
Namun, angka tersebut tidak langsung menunjukkan profitabilitas.
ROAS 1x berarti pendapatan sama dengan biaya iklan. Bisnis masih harus menanggung biaya produk dan operasional sehingga, dalam kondisi normal, hasilnya belum menguntungkan.
Sementara itu, ROAS 3x menunjukkan pendapatan tiga kali lipat dari biaya iklan.
Apakah sudah bagus? Jawabannya bergantung pada struktur biaya perusahaan.
Untuk bisnis dengan margin rendah, ROAS 3x mungkin belum cukup. Namun, bagi bisnis dengan margin lebih tinggi, nilai tersebut bisa memberikan kontribusi positif.
Karena itu, tidak ada satu angka ROAS yang otomatis cocok untuk seluruh industri.
Berapa ROAS yang Bagus untuk Bisnis?
Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika tim marketing mengevaluasi laporan kampanye.
Banyak orang ingin mengetahui apakah ROAS 200%, 300%, atau 500% sudah termasuk bagus.
Namun, menetapkan target hanya berdasarkan angka umum dapat menghasilkan keputusan yang kurang tepat.
Menurut Shopify, ROAS yang dapat diterima bergantung pada profit margin, biaya operasional, dan tujuan periklanan.
Dua perusahaan dengan nilai ROAS yang sama bisa memiliki tingkat keuntungan berbeda.
Sebagai contoh, sebuah bisnis menjual produk dengan margin kontribusi 20%, sedangkan bisnis lain memiliki margin kontribusi 35%.
Keduanya menghasilkan ROAS 4x dari biaya iklan Rp5 juta, sehingga pendapatan masing-masing mencapai Rp20 juta.
Namun, perhitungannya berbeda.
| Komponen | Bisnis A | Bisnis B |
| Revenue | Rp20.000.000 | Rp20.000.000 |
| Biaya Iklan | Rp5.000.000 | Rp5.000.000 |
| Margin Kontribusi sebelum Iklan | 20% | 35% |
| Kontribusi sebelum Iklan | Rp4.000.000 | Rp7.000.000 |
| Kontribusi setelah Iklan | -Rp1.000.000 | Rp2.000.000 |
| ROAS | 4x | 4x |
Perhatikan hasilnya.
Bisnis A mengalami kontribusi negatif sebesar Rp1 juta setelah biaya iklan. Sementara itu, Bisnis B masih memiliki kontribusi positif Rp2 juta untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
Padahal, keduanya memiliki ROAS yang sama.
Contoh tersebut menggunakan margin kontribusi setelah biaya variabel non-iklan, tetapi sebelum biaya iklan. Biaya tetap dan pajak penghasilan belum dimasukkan.
Inilah alasan target ROAS sebaiknya ditentukan berdasarkan struktur ekonomi bisnis, bukan sekadar mengikuti angka dari industri lain.
Cara Menghitung Break-Even ROAS
Salah satu perhitungan lanjutan yang penting dipahami adalah break-even ROAS.
Break-even ROAS merupakan tingkat ROAS ketika kontribusi dari penjualan tepat menutup biaya iklan, berdasarkan asumsi margin yang digunakan.
Perhitungan ini membantu bisnis mengetahui batas minimal efisiensi iklan sebelum aktivitas tersebut menghasilkan kontribusi negatif.
Rumus sederhananya adalah:
Break-Even ROAS = 1 ÷ Margin Kontribusi sebelum Biaya Iklan
Margin ditulis dalam bentuk desimal.
Misalnya, sebuah produk memiliki margin kontribusi 25% sebelum biaya iklan.
Maka:
Break-Even ROAS = 1 ÷ 0,25
Break-Even ROAS = 4x atau 400%
Artinya, dengan asumsi struktur biaya tetap sama, bisnis membutuhkan pendapatan sebesar empat kali biaya iklan agar kontribusi penjualannya mampu menutup pengeluaran iklan.
Berikut simulasi untuk beberapa tingkat margin.
| Margin Kontribusi | Break-Even ROAS |
| 15% | 6,67x |
| 20% | 5x |
| 25% | 4x |
| 30% | 3,33x |
| 40% | 2,5x |
| 50% | 2x |
Perhitungan tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara margin dan kebutuhan ROAS.
Semakin kecil margin kontribusi, semakin tinggi ROAS yang diperlukan untuk menutup biaya iklan.
Namun, penting dipahami bahwa titik impas ini hanya berlaku untuk biaya yang masuk dalam asumsi perhitungan.
Jika bisnis masih perlu menutup biaya tetap, biaya agency, atau pengeluaran lainnya, target ROAS yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba bersih bisa lebih tinggi.
Cara Menentukan Target ROAS Berdasarkan Margin dan Profit
Setelah mengetahui break-even ROAS, bisnis dapat menentukan target yang lebih realistis.
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki margin kontribusi sebelum iklan sebesar 30%.
Break-even ROAS-nya sekitar 3,33x.
Apabila bisnis ingin menyisakan kontribusi sebesar 10% dari revenue setelah biaya iklan, rumus yang dapat digunakan adalah:
Target ROAS = 1 ÷ (Margin Kontribusi − Target Kontribusi Setelah Iklan)
Maka:
Target ROAS = 1 ÷ (0,30 − 0,10)
Target ROAS = 5x atau 500%
Dengan target tersebut, bisnis berupaya mempertahankan kontribusi 10% dari pendapatan setelah biaya iklan, sebelum memperhitungkan biaya tetap dan komponen lain yang belum dimasukkan.
Namun, target finansial ini tidak otomatis menjadi target bidding yang tepat pada sebuah platform.
Google Ads, misalnya, juga mempertimbangkan data historis dan kemampuan sistem untuk menghasilkan konversi pada target yang ditetapkan.
Perbedaan ROAS, ROI, dan CAC
Meskipun ketiganya sering digunakan dalam laporan marketing, ROAS, ROI, dan CAC mengukur aspek yang berbeda.
ROAS berfokus pada pendapatan yang diatribusikan terhadap biaya periklanan.
ROI atau Return on Investment mengevaluasi keuntungan atau kerugian dari sebuah investasi dibandingkan dengan biaya investasinya.
Sementara itu, CAC atau Customer Acquisition Cost menunjukkan biaya rata-rata untuk memperoleh seorang pelanggan baru.
| Metrik | Fokus Pengukuran | Pertanyaan yang Dijawab |
| ROAS | Revenue dibanding ad spend | Berapa pendapatan per rupiah biaya iklan? |
| ROI | Keuntungan dibanding total investasi | Seberapa menguntungkan investasi tersebut? |
| CAC | Biaya akuisisi pelanggan | Berapa biaya mendapatkan satu pelanggan baru? |
Sebagai ilustrasi, sebuah bisnis memiliki data:
- Revenue: Rp20.000.000
- Ad Spend: Rp5.000.000
- Total biaya lain yang terkait: Rp10.000.000
Dengan demikian:
ROAS = Rp20.000.000 ÷ Rp5.000.000 = 4x
Sementara itu, total biaya menjadi Rp15 juta sehingga keuntungan yang dihitung adalah Rp5 juta.
ROI = (Rp5.000.000 ÷ Rp15.000.000) × 100%
ROI = 33,33%
Keduanya menghasilkan angka berbeda karena menggunakan dasar perhitungan yang tidak sama.
Oleh karena itu, ROAS dapat membantu mengevaluasi efisiensi media advertising, sedangkan ROI memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hasil finansial investasi.
Mengapa ROAS Tinggi Belum Tentu Menguntungkan?
Sebuah laporan iklan mungkin menunjukkan ROAS 600%. Angka tersebut terlihat menarik, terutama ketika dibandingkan dengan target kampanye.
Namun, sebelum menaikkan anggaran, bisnis sebaiknya memeriksa beberapa hal.
Pertama, apakah revenue yang dicatat sudah memperhitungkan refund dan pembatalan transaksi?
Kedua, apakah seluruh biaya variabel produk sudah diperhitungkan ketika menilai profitabilitas?
Ketiga, apakah pelanggan yang melakukan pembelian merupakan pelanggan baru atau sebagian besar pelanggan lama?
Keempat, apakah pendapatan tersebut benar-benar bertambah karena adanya iklan, atau sebagian transaksi mungkin tetap terjadi tanpa kampanye?
Pertanyaan terakhir berkaitan dengan konsep incrementality.
Google membedakan ROAS biasa dengan Incremental ROAS (iROAS), yaitu pengukuran pendapatan tambahan yang diperkirakan terjadi karena aktivitas iklan dibandingkan kondisi tanpa iklan.
Menurut dokumentasi Google Ads mengenai Conversion Lift, iROAS dihitung dengan membagi nilai konversi tambahan yang diperoleh dari eksperimen terhadap total biaya iklan.
Pendekatan ini berguna ketika bisnis ingin memahami dampak tambahan dari periklanan, bukan hanya pendapatan yang dikreditkan oleh platform.
Namun, pengukuran incrementality membutuhkan metode eksperimen dan data yang sesuai. Angkanya tidak dapat langsung diperoleh hanya dengan membaca ROAS pada dashboard.
Apa Kata Riset tentang Pengukuran ROI Marketing?
Tantangan dalam mengukur hasil pemasaran ternyata tidak hanya dialami oleh bisnis kecil.
Penelitian Nielsen 2025 Annual Marketing Report yang melibatkan 1.400 marketer menunjukkan bahwa hanya 32% responden secara global mengukur pengeluaran media digital dan tradisional secara menyeluruh dalam satu pendekatan pengukuran.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa menyatukan data dari berbagai kanal pemasaran masih menjadi tantangan.
Selain itu, dalam pembahasan Nielsen mengenai tantangan pengukuran ROI, 22% marketer menempatkan keselarasan antarpemangku kepentingan mengenai metrik sebagai salah satu dari dua tantangan utama.
Sebanyak 19% juga menyoroti masalah data yang sulit dibandingkan, terlalu banyak data, atau ketidakjelasan KPI yang perlu diprioritaskan.
Temuan ini tidak secara khusus mengukur kesalahan perhitungan ROAS. Namun, hasilnya menunjukkan pentingnya menyepakati definisi metrik sebelum membuat keputusan anggaran.
Bagi bisnis yang menggunakan beberapa kanal iklan sekaligus, persoalan tersebut cukup relevan.
Misalnya, Google Ads dan Meta Ads dapat menggunakan metode atribusi, periode konversi, serta sumber data yang berbeda.
Jika pendapatan yang sama dihitung sebagai hasil dari dua platform tanpa penyesuaian, angka total performa marketing bisa terlihat lebih besar daripada pendapatan transaksi yang sebenarnya.
Karena itu, bisnis sebaiknya menggunakan data penjualan internal sebagai salah satu pembanding dan tidak langsung menjumlahkan seluruh revenue atribusi platform sebagai pendapatan tambahan yang pasti terjadi.
Cara Melihat dan Menghitung ROAS di Google Ads
Google Ads menyediakan metrik yang membantu pengiklan memahami perbandingan nilai konversi dengan biaya kampanye.
Dalam dokumentasinya, Google menggunakan metrik Conversion Value / Cost untuk melihat hubungan antara nilai konversi dan biaya iklan.
Untuk memeriksanya, bisnis dapat:
- Membuka Google Ads dan memilih campaign yang ingin dievaluasi.
- Menentukan periode analisis.
- Menampilkan kolom Cost, Conversions, Conversion Value, serta Conversion Value / Cost.
- Memeriksa apakah nilai konversi sudah sesuai dengan tujuan pengukuran.
- Membandingkan hasil dengan target bisnis dan performa sebelumnya.
Misalnya, dashboard menampilkan Conversion Value sebesar Rp15 juta dengan Cost Rp3 juta.
Maka, nilai Conversion Value / Cost adalah 5, yang setara dengan ROAS 500%.
Namun, pembacaan hasil harus disesuaikan dengan konfigurasi conversion tracking.
Apabila conversion value berasal dari nilai estimasi leads, hasil tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai pendapatan penjualan aktual.
Selain itu, perbedaan periode atribusi dapat membuat angka di Google Ads berbeda dengan sistem penjualan internal.
Google menjelaskan bahwa conversion lag atau jeda antara interaksi iklan dan terjadinya konversi dapat mempengaruhi hasil pelaporan ROAS, terutama untuk periode terbaru.
Karena itu, laporan sebaiknya ditinjau setelah data konversi memiliki waktu yang cukup untuk tercatat.
Bagaimana dengan ROAS di Meta Ads?
Untuk kampanye penjualan, Meta Ads juga dapat menampilkan metrik yang berkaitan dengan nilai pembelian dan ROAS apabila konfigurasi pengukuran mendukungnya.
Data yang umum digunakan antara lain:
- Amount Spent
- Purchases
- Purchase Conversion Value
- Purchase ROAS
Namun, ketersediaan dan nama metrik dapat bergantung pada konfigurasi akun, jenis kampanye, serta antarmuka pelaporan.
Sebagai contoh, sebuah kampanye mencatat biaya iklan Rp2,5 juta dengan purchase conversion value sebesar Rp10 juta.
Maka:
ROAS = Rp10.000.000 ÷ Rp2.500.000
ROAS = 4x atau 400%
Agar hasil dapat dianalisis dengan benar, bisnis perlu memeriksa pemasangan Meta Pixel, penggunaan Conversions API jika relevan, serta pencatatan event Purchase dan nilai transaksi.
Selain itu, penting untuk mengevaluasi attribution settings yang digunakan.
Dua platform dapat memberikan kredit terhadap transaksi yang sama melalui metode pengukuran berbeda. Oleh sebab itu, hasil masing-masing platform tidak selalu dapat dijumlahkan secara langsung.
Kesalahan Umum Saat Menghitung ROAS
Rumus ROAS memang sederhana. Namun, kesalahan sering terjadi pada data yang digunakan atau cara hasilnya diinterpretasikan.
1. Menganggap Semua Conversion Value sebagai Revenue
Tidak semua conversion memiliki nilai penjualan langsung.
Misalnya, pengisian formulir, pendaftaran newsletter, atau permintaan katalog dapat diberi nilai tertentu untuk kebutuhan optimasi.
Namun, nilai tersebut belum tentu mencerminkan pendapatan yang benar-benar diterima perusahaan.
Jika conversion value bersifat estimasi, jelaskan dasar perhitungannya dalam laporan.
2. Mengabaikan Refund dan Pembatalan Pesanan
Sebuah kampanye dapat menghasilkan banyak transaksi, tetapi sebagian mungkin dibatalkan atau dikembalikan.
Apabila laporan hanya menggunakan nilai pesanan awal, ROAS dapat terlihat lebih tinggi dibandingkan hasil penjualan akhirnya.
Karena itu, gunakan data transaksi yang telah direkonsiliasi ketika mengevaluasi profitabilitas.
3. Membandingkan Campaign dengan Periode Berbeda
Membandingkan ROAS satu kampanye selama tujuh hari dengan kampanye lain selama tiga puluh hari dapat menghasilkan interpretasi yang kurang tepat.
Terlebih lagi, pelanggan mungkin membutuhkan waktu beberapa hari sebelum membeli.
Gunakan periode yang sebanding dan pertimbangkan jeda konversi sebelum menarik kesimpulan.
4. Tidak Memisahkan ROAS dan Profit
Kesalahan ini cukup sering terjadi dalam laporan performa iklan.
ROAS tinggi tidak otomatis berarti laba tinggi.
Bisnis perlu memeriksa margin kontribusi, biaya produk, dan pengeluaran lain sebelum menyimpulkan bahwa kampanye layak mendapatkan tambahan anggaran.
5. Mengabaikan Struktur Biaya Campaign
ROAS standar biasanya menggunakan biaya media iklan sebagai penyebut.
Namun, jika satu laporan memasukkan agency fee dan biaya kreatif, sementara laporan lainnya hanya menggunakan media spend, kedua angka tersebut tidak sepenuhnya sebanding.
Tentukan definisi perhitungan sejak awal dan gunakan secara konsisten.
Cara Meningkatkan ROAS dalam Digital Advertising
Setelah memahami cara menghitung dan membaca ROAS, langkah berikutnya adalah memikirkan bagaimana performanya dapat diperbaiki.
Namun, meningkatkan ROAS tidak selalu berarti harus mengurangi biaya iklan.
Ada beberapa area yang dapat dianalisis terlebih dahulu.
Perbaiki Kesesuaian Target Audiens
Iklan yang menjangkau banyak orang belum tentu menghasilkan transaksi.
Karena itu, evaluasi apakah pesan dan penawaran sesuai dengan kebutuhan audiens yang ditargetkan.
Untuk Google Ads, hal ini dapat melibatkan peninjauan search terms dan penggunaan negative keywords.
Sementara itu, untuk Meta Ads, bisnis dapat mengevaluasi pendekatan kreatif, segmentasi audiens, dan respons terhadap berbagai variasi penawaran.
Evaluasi Creative dan Copywriting
Sebuah iklan mungkin menarik perhatian, tetapi pesan yang disampaikan belum tentu cukup jelas untuk mendorong pembelian.
Coba evaluasi apakah visual, headline, dan copywriting sudah mengkomunikasikan manfaat produk secara relevan.
Pengujian beberapa variasi pesan dapat membantu tim marketing memahami pendekatan yang menghasilkan respons lebih baik.
Optimalkan Landing Page
Setelah seseorang mengklik iklan, pengalaman pada landing page memiliki peran penting.
Jika informasi produk sulit ditemukan, halaman membutuhkan waktu lama untuk dimuat, atau proses checkout terlalu rumit, peluang konversi dapat berkurang.
Karena itu, evaluasi hubungan antara pesan iklan dan konten landing page.
Pengunjung yang tertarik pada penawaran tertentu sebaiknya langsung menemukan informasi yang sesuai ketika membuka halaman tujuan.
Tingkatkan Average Order Value
Cara lain yang dapat dipertimbangkan adalah meningkatkan rata-rata nilai transaksi.
Misalnya, bisnis menawarkan paket produk yang saling melengkapi, pilihan ukuran lebih besar, atau layanan tambahan yang relevan.
Namun, peningkatan Average Order Value (AOV) tidak otomatis memperbaiki laba.
Perusahaan tetap perlu memperhitungkan margin dari produk atau layanan tambahan tersebut.
Pantau ROAS Bersama Metrik Lain
Terakhir, jangan mengevaluasi ROAS secara terpisah.
Perhatikan juga Cost per Acquisition, conversion rate, kualitas pelanggan, margin kontribusi, dan revenue.
Pendekatan ini membantu bisnis membedakan kampanye yang sekadar terlihat efisien dari kampanye yang benar-benar memberikan kontribusi terhadap tujuan bisnis.
Apakah Target ROAS yang Lebih Tinggi Selalu Lebih Baik?
Tidak selalu.
Dalam Google Ads, Target ROAS merupakan salah satu strategi Smart Bidding berbasis nilai konversi.
Menurut Google Ads Help, sistem menggunakan data nilai konversi untuk menyesuaikan bidding agar mencapai rata-rata ROAS yang ditargetkan.
Sebagai contoh, target ROAS 500% berarti pengiklan menginginkan nilai konversi lima kali biaya iklan.
Namun, Google juga menjelaskan bahwa menetapkan target ROAS terlalu tinggi dapat membatasi jumlah trafik yang diperoleh.
Hal tersebut terjadi karena sistem perlu menjadi lebih selektif dalam menentukan peluang lelang iklan.
Karena itu, target finansial perusahaan dan target bidding platform perlu dipertimbangkan bersama.
Bisnis dapat menggunakan data historis, kualitas conversion tracking, serta tujuan pertumbuhan untuk menentukan strategi bidding yang lebih sesuai.
ROAS tinggi belum tentu menjadi hasil terbaik apabila volume transaksi menurun terlalu jauh dan total kontribusi keuntungan ikut berkurang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang ROAS
Apa Rumus ROAS?
Rumus ROAS adalah pendapatan yang diatribusikan kepada iklan dibagi biaya iklan.
Jika ingin mengubahnya menjadi persentase, kalikan hasilnya dengan 100%.
ROAS 300% Artinya Apa?
ROAS 300% berarti setiap Rp1 yang dikeluarkan untuk iklan berkaitan dengan Rp3 pendapatan yang diatribusikan kepada kampanye.
Namun, angka tersebut belum menunjukkan keuntungan bersih.
Apakah ROAS 2x Sudah Bagus?
Belum tentu. ROAS 2x dapat menguntungkan bagi bisnis dengan margin kontribusi tinggi, tetapi bisa menimbulkan kerugian bagi bisnis dengan margin rendah.
Evaluasinya perlu mempertimbangkan biaya dan tujuan perusahaan.
Apa Perbedaan ROAS dan ROI?
ROAS membandingkan pendapatan dengan biaya iklan, sedangkan ROI membandingkan keuntungan dengan biaya investasi.
Keduanya digunakan untuk menjawab pertanyaan finansial yang berbeda.
Apakah ROAS Bisa Digunakan untuk Bisnis Jasa?
Bisa, selama nilai transaksi dan atribusi pendapatannya dapat ditentukan.
Untuk bisnis jasa yang memiliki proses penjualan panjang, evaluasi dapat menggabungkan ROAS dengan qualified leads, closing rate, CAC, dan nilai kontrak aktual.
Apakah ROAS 500% Berarti Untung 500%?
Tidak.
ROAS 500% berarti pendapatan yang diatribusikan kepada iklan adalah lima kali biaya iklan. Perhitungan tersebut belum mengurangi biaya produk, operasional, dan pengeluaran lainnya.
Kesimpulan
Memahami cara menghitung ROAS membantu bisnis mengetahui hubungan antara anggaran iklan dan pendapatan yang dicatat dari aktivitas periklanan.
Dengan rumus sederhana, perusahaan dapat membandingkan efisiensi beberapa kampanye, mempelajari perubahan performa, dan menggunakan hasilnya sebagai bagian dari pertimbangan anggaran.
Namun, ROAS tidak dapat berdiri sendiri sebagai indikator keberhasilan bisnis.
Margin kontribusi, biaya operasional, kualitas pelanggan, hingga akurasi conversion tracking perlu diperhatikan untuk mendapatkan gambaran performa yang lebih lengkap.
Sebuah kampanye dengan ROAS 4x mungkin menguntungkan bagi satu perusahaan, tetapi belum tentu memberikan hasil yang sama bagi perusahaan lain.
Karena itu, target ROAS sebaiknya ditentukan berdasarkan struktur biaya, tujuan pertumbuhan, serta data historis bisnis.
Pada akhirnya, tujuan menjalankan iklan bukan sekadar menghasilkan ROAS setinggi mungkin, melainkan menggunakan anggaran pemasaran untuk menciptakan hasil bisnis yang berkelanjutan dan terukur.
Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan strategi periklanan dengan pengukuran performa lebih terarah, Mindlabs Studio menyediakan layanan Digital Advertising yang mencakup Google Ads, Meta Ads, conversion tracking, dan optimasi kampanye berdasarkan kebutuhan bisnis.





